MAU DIAPAKAN BIMBINGAN KONSELING KITA

Oleh : Wannef Jambak )* Konselor Sekolah SMP Negeri 2 Sirandorung.

Sudah saya coba membolak-balik silabus yang katanya akan menggunakan kurikulum KTSP, yang dibahas cuma masalah bidang study saja. Artinya para pemikir dan pencipta kurikulum kita ternyata betul-betul hanya mengharapkan nilai yang berbentuk angka-angka. Kalau angkanya baik, maka itulah yang akhirnya dikatakan peningkatan mutu.

Kalau seandainya pemikiran para ahli pendidikan kita hanya sampai disitu, maka saya yakin, begini teruslah keadaan masyarakat kita. Kalau di sekolah nilainya delapan, sembilan bahkan ada yang sepuluh, namun di rumah atau dilingkungan masyarakat ia di kenal jahat, pemabuk, dan durhaka pada orangtua. Namun karena nilainya baik di sekolah, maka anak ini tetap dianggap bermutu.

Barangkali para pemikir kita sudah lupa, bahwa pendidikan itu juga harus dibarengi dengan pembinaan mental, agama, dan semua ini dapat dilakukan dengan pelayanan Bimbingan Konseling. Cara-cara dan tekhnik para konselor sekolah sudah paham, namun keberadaan mereka sepertinya terabaikan, bahkan lebih tepat disebut sebagai “anak tiri”.

Yang menyedihkan sekali, dalam KTSP itu yang namanya pelayanan Bimbingan Konseling hanya sebagai kegiatan tambahan yang sejajar dengan UKS, Pramuka, seni tari, sehingga dalam KTSP dimasukkan kedalam “pengembangan diri”. Kalau memang seperti ini pemikiran para ahli pendidikan kita, saya tidak tahu pengaruh dari mana. Kalau dari Barat, seperti Amerika, Inggris, Perancis, saya tau persis mereka sangat menghargai “GUIDANCE And CAUNSELING” ini. Tapi di negeri kita yang corak dan latarbelakang budayanya berebeda-beda, malah Bimbingan Konseling di “Anak Tirikan,” Apa jadinya kelak anak bangsa kita ??
kata Mas Ebiet GAD ” tanya pada rumput yang bergoyang” Mohon tanggapan rekan-rekan lain.

4 responses to “MAU DIAPAKAN BIMBINGAN KONSELING KITA

  1. Bang Warnef Djambak Yth.
    Bimbingan Karier (BK) di dalam sistem pendidikan sekolah kita memang dipaksa lahir “sungsang”, kalau nggak mau dibilang “aborsi”, hanya karena salah penanganan sebagai akibat kekurang pahaman.
    Siapa yang dimaksud dengan “mereka yang salah menangani, dan tidak memahami” esensi BK?, …para Guru BK (maaf saya belum berani menyebut para Konselor Sekolah) sudah pada tahu.
    Kalau ingin membangunkan BK dari tidurnya, sebaiknya kita yang sedang TIDAK TERLELAP ini segera memberdayakan peluangnya para pakar BK (seperti Prof.Prayitno) agar di dengar keinginan serta harapannya, oleh para yang tidak paham dengan BK tapi PUNYA OTORITAS MENENTUKAN HIDUP MATINYA BK di sekolah.

    Ayo bersama kita bisa! kalau perlu kumpul-kumpul dan bicara bersama demi BK dan masa depan anak-anak kita.

    Salam,
    Darsana Setiawan

  2. saya sangat setuju sekali dengan pendapat ini, sebagai pendidik seharusnya tidak hanya memikirkan nilai yang tinggi tapi juga harus memikirkan bagaimana anak mampu mengenal sistem sosial yang berlaku dimasyarakat dimana anak berada.

  3. Saya setuju dengan pendapat anda dan bahkan saat ini dalam kurikulum kita pengembangan diri yang muatanya ada bimbingan konseling disama ratakan dengan Ekstrakurikuler. Sedangkan BK mestinya perlu tatap muka secara klasikal. Tapi….. karena tertulis 2*) yang kalau disana boleh tatap muka boleh tidak sehingga kepala Sekolah yang tidak memahami kepentingan BK dengan enaknya BK tidak usah masuk kelas. Mohon dibahas secara Nasional para pemangku kepentingan BK

  4. Salam koaste. semoga konselor indonesia semakin jaya

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s